Kamis, 18 November 2010

Sejarah Kabupaten Cilacap

1. Zaman Kerajaan Jawa

Penelusuran sejarah zaman kerajaan Jawa diawali sejak zaman Kerajaan Mataram Hindu sampai dengan Kerajaan Surakarta. Pada akhir zaman Kerajaan Majapahit (1294-1478) daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap terbagi dalam wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang wilayahnya membentang dari timur ke arah barat :

- Wilayah Ki Gede Ayah dan wilayah Ki Ageng Donan dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

- Wilayah Kerajaan Nusakambangan dan wilayah Adipati Pasir Luhur

- Wilayah Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran setelah diserang oleh kerjaan Islam banten dan Cirebon jatuh pada tahun 1579, sehingga bagian timur Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada Kerajaan Cirebon. Oleh karena itu seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten Cilacap disebelah timur dibawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang dan sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon.

Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopatipada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada Kerajaan Mataram .

Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon.

Menurut catatan harian Kompeni Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21 Pebruari 1682 diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum, sebelah utara Karawang ke Bagelen. Nama-nama yang dilalui dalam daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap adalah Dayeuhluhur dan Limbangan.

2. Zaman Penjajahan Belanda

Pembentukan Onder Afdeling Cilacap (dua bulan setelah Residen Launy bertugas) dengan besluit Gubernur Jenderal D.De Erens tanggal 17 Juli 1839 Nomor 1, memutuskan :

"Demi kepentingan pelaksanaan pemerintahan daerah yang lebih rapi di kawasan selatan Banyumas dan peningkatan pembangunan pe,abuhan Cilacap, maka sambil menunggu usul organisasi distrik-distrik bagian selatan yang akan menjadi bagiannya, satu dari tiga Asisten Resident di Karesidenan ini akan berkedudukan di Cilacap".

Karena daerah Banyumas Selatan dianggap terlalu luas untuk dipertahankan oleh Bupati Purwokerto dan Bupati Banyumas maka dengan Besluit tanggal 27 Juni 1841 Nomor 10 ditetapkan :"Patenschap" Dayeuhluhur dipisahkan dari Kabupaten Banyumas dan dijadikan satu afdeling tersendiri yaitu : afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap, yang menjadi tempat kedudukan kepala Bestuur Eropa Asisten Residen dan Kepala Bestuur Pribumi Rangga atau Onder Regent. Dengan demikian Pemerintah Pribumi dinamakan Onder Regentschap setaraf dengan Patih Kepala Daerah Dayeuhluhur.

Bagaimanapun pembentukan afdeling memenuhi keinginan Bupati Purwokerto dan Banyumas yang sudah lama ingin mengurangi daerah kekuasaan masing-masing dengan Patenschap Dayeuhluhur dan Distrik Adiraja.

Adapun batas Distrik Adiraja yang bersama pattenschap Dayeuhluhur membentuk Onder Regentschap Cilacap menurut rencana Residen Banyumas De Sturier tertanggal 31 Maret 1831 adalah sebagai berikut :

Dari muara Sungai Serayu ke hulu menuju titik tengah ketinggian Gunung Prenteng. Dari sana menuju puncak, turun ke arah tenggara pegunungan Kendeng, menuju puncak Gunung Gumelem (Igir Melayat). dari sana ke arah selatan mengikuti batas wilayah Karesidenan Banyumas menuju ke laut. Dari sana kearah barat sepanjang pantai menuju muara Sungai Serayu. dari batas-batas Distrik Adiraja dapat diketahui bahwa Distrik Adiraja sebagai cikal-bakal eks Kawedanan Kroya lebih besar dari pada eks. Kawedanan Kroya , karena waktu itu belum terdapat Distrik Kalireja, yang dibentuk dari sub bagian Distrik Adiraja dan sebagai Distrik Banyumas. Sehingga luas kawasan Onder Regentschap Cilacap masih lebih besar dari luas Kabupaten Cilacap sekarang.

Pada masa residen Banyumas ke-9 Van de Moore mengajukan usul Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 3 Oktober 1855 yang ditandatangani Gubernur Jenderal Duijmaer Van Tuist, kepada Menteri Kolonial Kerajaan Belanda dalam Kabinet Sreserpt pada tanggal 29 Desember 1855 Nomor 86, dan surat rahasia Menteri Kolonial tanggal 5 Januari 1856 Nomor 7/A disampaikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial bermakna dua yaitu permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten Cilacap dan organisasi bestir pribumi dan pengeluaran anggaran lebih dari F.5.220 per tahun yang keduanya memerlukan persetujuan Raja Belanda,setelah menerima surat rahasia Menteri Kolonial Pemerintah Hindia Belanda dengan besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856 Nomor 21 antara lain menetapkan Onder Regentschap Cilacap ditingkatkan menjadi Regentschap (Kabupaten Cilacap).

Daftar Nama Bupati Cilacap :

  1. R. Tumenggung Tjakra werdana II (1858-1873)

  2. R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)

  3. R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)

  4. R.M Adipati Tjakrawerdaya (1882-1927)

  5. R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)

  6. Raden Mas Soetedjo (1950-1952)

  7. R. Witono (1952-1954)

  8. Raden Mas Kodri (1954-1958)

  9. D.A Santoso (1958-1965)

10. Hadi Soetomo (1965-1968)

11. HS. Kartabrata (1968-1974)

12. H. RYK. Moekmin (1974-1979)

13. Poedjono Pranyoto (1979-1987)

14. H. Mohamad Supardi (1987-1997)

15. H. Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)

16. H. Probo Yulastoro, S.Sos, MM, M.Si (2002- sekarang)

English translation

Cilacap District History1. Age of the Kingdom of Java
Search history era began since the era of Javanese kingdom of Mataram Hindu Kingdom to the Kingdom of Surakarta. At the end of the Majapahit Kingdom era (1294-1478) the forerunner of Cilacap district is divided into regions of the Majapahit Kingdom, Duke and the Kingdom of Sand Luhur Pakuan Pajajaran, whose territory stretches from east to west:
- Region Ki Gede's father and the Ki Ageng Donan under the authority of the Kingdom of Majapahit.
- County Royal Nusakambangan and regions Duke Sand Luhur
- Region Pakuan Pajajaran Kingdom.
According to Husein Djayadiningrat, Pakuan Pajajaran Hindu kingdom after being attacked by Islamic job offerings and Cirebon fell in 1579, so that the eastern part of the Kingdom of Pakuan Pajajaran handed over to the Kingdom of Cirebon. Therefore, the entire region forerunner of Cilacap district on the east side under the rule of the Islamic Empire and the west Pajang handed over to the Kingdom of Cirebon.
Kingdom Pajang replaced with the Islamic Mataram Kingdom which was founded by Panembahan Senopatipada year 1587-1755, the precursor region Cilacap District which was originally under the rule of the Islamic Empire Pajang submitted to the kingdom of Mataram.
In 1595 the Kingdom of Mataram constructed to County Galuh residing in the territory of the Kingdom of Cirebon.
According to the diary entry Dutch Company in Fort Batavia, dated February 21, 1682 received a letter containing a translation of the Citarum road trip, north of Karachi to Bagelen. The names of the regions through which the forerunner of Cilacap district is Dayeuhluhur and Limbangan.
2. Dutch colonization era
Formation Onder Afdeling Cilacap (two months after the resident on duty Launy) with besluit Governor-General D. De Erens dated July 17, 1839 Number 1, decides:
"In the interest of local government implementation of a more tidy in the southern region and increasing development pe Banyumas, abuhan Cilacap, the organization's pending proposal southern districts which will be part of, one of three Assistant Resident in this residency will be based in Cilacap."
Because the area of South Banyumas considered too broad to be maintained by the Regent and Regent Purwokerto Banyumas then with Besluit dated June 27, 1841 No. 10 stipulated: "Patenschap" Dayeuhluhur separated from Banyumas and made a separate department namely: section Cilacap Cilacap to the capital city, which became locus chief European Bestuur Bestuur Assistant Resident and Chief Native Rangga or Onder Regent. Thus the Government of the Natives called Onder Regentschap commensurate with the Regional Head Patih Dayeuhluhur.
However the establishment of department meet the wishes of Purwokerto and Banyumas Regent who had long wanted to reduce the area of power each with Patenschap Dayeuhluhur and Adiraja District.
The District boundary Adiraja which together form the Onder Regentschap Dayeuhluhur pattenschap Cilacap according to a plan Resident Banyumas De Sturier dated March 31, 1831 are as follows:
From Serayu River estuary upstream toward the midpoint of the height of Mount Prenteng. From there to the summit, down to the southeast mountains Kendeng, to the summit of Mount Gumelem (Igir mourn). from there to the south following the boundary area of residency of Banyumas towards the sea. From there towards the west along the coast toward the mouth of the River Serayu. from Adiraja District boundaries can be seen that the District Adiraja as a forerunner of the ex Kawedanan Kroja greater than the former. Kawedanan Kroya, since that time there have been no Kalireja District, which is formed from sub-section Adiraja District and as District Banyumas. So Onder Regentschap Cilacap area is still larger than the area of Cilacap district now.
During the 9th Banyumas resident Van de Moore proposed the Dutch East Indies government on October 3, 1855 signed by the Governor-General Duijmaer Van Tuist, to the Minister of the Royal Dutch Colonial in Sreserpt Cabinet on December 29, 1855 No. 86, and a secret letter of the Minister of Colonial date January 5, 1856 No. 7 / A submitted to the Governor-General of the Dutch East Indies. Cilacap district formation proposal by the Minister of Colonial meaningful application for approval of the formation of two of Cilacap Regency and bestir indigenous organizations and the expenditure budget of more than F.5.220 per year which both require the approval of the King of the Netherlands, after receiving a confidential letter of the Minister of Colonial Government of the Netherlands East Indies with besluit Governor-General dated March 21, 1856 No. 21 among others, determined Onder Regentschap Cilacap increased to Regentschap (Cilacap District).
Cilacap Regent Names List:

  
1. R. Tumenggung Tjakra werdana II (1858-1873)

  
2. R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)

  
3. R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)

  
4. R.M Tjakrawerdaya Duke (1882-1927)

  
5. Duke R.M Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)

  
6. Raden Mas Soetedjo (1950-1952)

  
7. R. Witono (1952-1954)

  
8. Raden Mas Kodri (1954-1958)

  
9. D.A Santoso (1958-1965)
10. Hadi Soetomo (1965-1968)
11. HS. Kartabrata (1968-1974)
12. H. RYK. Moekmin (1974-1979)
13. Poedjono Pranyoto (1979-1987)
14. H. Mohamad Supardi (1987-1997)
15. H. Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)
16. H. Probo Yulastoro, S. Sos, MM, M. Si (2002 - present)

 
Source: Here

Oleh - oleh Ikan Asin Di Cilacap, Datand Ke MINO ARTO!

Mino Arto, Ikon Ikan Asin Cilacap


Di Indonesia, siapapun pasti mengenal ikan asin. Jenis ikan yang dikeringkan ini digemari sebagian masyarakat sebagai pelengkap dalam menu makanan sehari-hari. Bagi nelayan, mengolah ikan dengan cara pengasinan adalah cara pengawetan tradisional yang paling popuer karena selain mudah pengerjaannya juga pasarnya terbuka. Banyaknya permintaan pasar membuat peluang bisnis ikan asin seolah tidak pernah mati.

Seperti yang dilakukan Wagirah Pariman, wanita paruh baya yang tinggal di Jalan Bakung Kabupaten Cilacap ini sudah mengolah ikan asin sejak tahun 1972 melanjutkan usaha orang tuanya. Mulai tahun 1984, berkat bantuan UNICEF senilai Rp750.000,- Wagirah dan kelompoknya meningkatkan kapasitas produknya yang semula hanya kualitas lokal menjadi kualitas super dan merambah pasar luar kota. Usaha ikan asin yang ditekuni Wagirah tetap bertahan hingga sekarang dengan merek “Mino Arto”.

Cilacap dikenal sebagai salah satu sentra produksi perikanan. Ketersediaan bahan baku dari Cilacap cukup besar. Seperti dikutip dari laporan Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Cilacap Tahun 2009, ketersediaan bahan baku dari perikanan tangkap di laut sebesar 5.922.806 kg/tahun, perairan umum (sungai, rawa, genangan) sebesar 436.040 kg/tahun, perikanan kolam sebesar 2.196.240 kg/tahun, serta perikanan budidaya tambak sebesar 593.550 kg/tahun. Menurut catatan, sebanyak 4.904.425 kg diolah lebih lanjut menjadi ikan asin, terasi, ikan asap dan tepung ikan. Adapun jenis ikan yang banyak diolah menjadi ikan asin adalah cucut, pari, manyung, layur, cumi-cumi, tigawaja, tembang, teri, udang, ikan lidah beloso dan ikan pelagis kecil lainnya.

Mino Arto

Nama membawa berkah, itulah yang setidaknya dialami oleh Wagirah Pariman. Nama Mino Arto yang dalam bahasa Indonesia berarti ikan yang mendatangkan uang, benar-benar membawa berkah bagi dirinya dan Ibu Romlah Wagiman. “Mino Arto diberikan langsung oleh Istri dari Bupati Poedjono Pranoto tahun 1984,” kenang Ibu Wagirah. Dari sepuluh orang penerima bantuan UNICEF, hanya tinggal Ibu Wagirah dan Ibu Romlah yang masih bertahan menjalankan usaha ikan asin hingga sekarang. Dua wanita tersebut berbagi peran yakni urusan pemasaran dipegang oleh Ibu Romlah, sedangkan urusan pengolahan diserahkan kepada Ibu Wagirah.

Sejak tahun 1984, Ibu Wagirah mulai mengolah jenis ikan asin super seperti jambal roti, pari, ikan lendra (lidah), tiga waja dan bilis. Jenis ikan asin super memiliki ciri-ciri bentuk fisik mulus, warna putih dan ukuran seragam. Pada mulanya, Ibu Wagirah hanya mampu memproduksi 10-20 kg ikan asin karena pemasarannya masih terbatas dan produknya belum begitu dikenal. Kini, dalam sehari ia mampu mengolah 2 kuintal ikan jambal kering, 2 kuintal lagi jenis lainnya. Pasokan bahan baku ikan ia peroleh dari bakul-bakul ikan di TPI Cilacap. Saat musim paceklik, kadang ia harus mencari bahan baku dari luar karena pasokan lokal tidak mencukupi salah satunya dari Juwana. “Kualitas bahan baku lokal sebenarnya lebih baik daripada dari luar,” tuturnya bersemangat.

Pemasaran yang awalnya hanya di meja rumah, sejak tahun 1990 Wagirah dan Romlah punya toko sendiri di depan rumahnya. Wagirah mengaku banyak dibantu oleh Dinas-dinas di Kabupaten Cilacap, Kodim, dan Bank di Cilacap terutama dalam hal promosi. Menurutnya, tiap ada tamu instansi tersebut selalu memborong ikan asin produksinya. Ikan asin Mino Arto juga kerap diikutkan dalam pameran sebagai produk olahan ikan khas Cilacap. Setiap bulan, Ia juga rutin memasok ikan pari asin dan jambal roti sebanyak 2 kuintal ke Cirebon.

Ikan asin jambal dijual seharga Rp50.000/kg, pari asin Rp70.000/kg, sedangkan bilis, tiga waja dan lendra ia banderol dengan harga yang sama yaitu Rp35.000/kg. Menurut Ibu Wagirah, saat ini bahan baku sulit diperoleh sehingga produksi ikan asinnya turun. Selain itu, harga bahan baku juga cenderung naik. Jika pada kondisi normal harga ikan jambal Rp8.000/kg naik menjadi Rp11.000/kg, pari Rp5.000/kg menjadi Rp7.000/kg, tiga waja dan bilis dari Rp2.000/kg menjadi Rp3.500/kg dan ikan lendra (lidah) Rp6.000/kg. “Itupun barangnya susah dicari,” ujarnya. Meskipun harga bahan baku naik, namun ia tidak memberlakukan kenaikan harga pada harga ikan asin produksinya.

Toko Mino Arto tidak hanya menjual ikan asin, tetapi juga menyediakan olahan produk perikanan lainnya seperti kerupuk ikan, getas, keripik belut, teri nasi dan abon ikan. Bagi pembeli yang hendak membawa produk dari Mino Arto dalam jumlah banyak, toko ini siap membungkus dalam kemasan kardus yang rapih dan cantik. Untuk jasa ini, pembeli dikenakan tambahan biaya Rp5.000-7.000/kardus tergantung ukurannya. Jadi, bagi anda yang hendak mengunjungi Cilacap, jangan lupa mampir ke toko Mino Arto. Dijamin ikan asinnya bikin anda ketagihan.

MINO ARTO
Jl. Bakung No. 19 Cilacap, Telp. 0282-52098
Sumber : Di Sini

Kamis, 11 November 2010

Agnes Monica Berlatih Double Demi AMA

Saat menjadi host dalam acara American Musik Awards nanti Agnes Monica dituntut untuk memakai bahasa Inggris. Bahasa Inggris menambah kesulitan yang agnes harus hadapi di sana, terlebih lagi karena terakhir ia menjadi host adalah ketika ia masih anak-anak dan menjadi pembawa acara untuk program Tralala-Trilili. Maka dari itu Agnes sangat membutuhkan latihan."Aku nanti ngehost harus bahasa Inggris. Terakhir ngehost di Tralala-Trlili, itu udah sepuluh tahun lalu lebih. Padahal di bahasa Indonesia, sendiri aku udah lama gak ngehost, itu aja butuh latihan. Apalagi kalau harus bicara bahasa Inggris," ucapnya ketika ditemui seusai acara anniversary Global TV beberapa waktu lalu.
Bisa dibilang Agnes harus melakukan double job dengan berlatih menjadi host yang memakai bahasa Inggris. Menurut Agnes kesuksesan adalah ketika kesiapan bertemu dengan kesempatan, dan untuk jadi siap hal itu bisa diusahakan dengan berusaha dan berlatih keras.
"Iya, bisa dibilang double job, nanti harus ngomong Inggris, terus ngomong Indonesia. Kalau nyanyi, gue nggak pernah berhenti latihan. Kesuksesan itu terjadi saat kesiapan ketemu sama kesempatan. Untuk menjadi siap, kita bisa kontrol. Tetapi untuk kesempatan itu kan di luar kehendak/kuasa kita," ujarnya.
Berbicara masalah lain, Agnes monica mengaku turut berduka dengan segala bencana yang menimpa Indonesia. Namun Agnes memiliki pandangan yang sedikit berbeda mengenai bencana alam, ia mengajak bangsa Indonesia tidak hanya bersatu ketika terjadi bencana, karena selama ini ketika mengalami kesulitan, semua orang baru mau bersatu.
"Aku turut berduka untuk orang-orang Indonesia yang terkena bencana, justru yang aku pengen, Indonesia jangan bersatu kalau ada bencana doang!!! Kalau ada bom, ada bencana, ada teroris, baru aja bersatu. Kita harus bisa, Indonesia harus bisa satu, walaupun nggak ada bencana."
Simber :Di sini

Agnes Monica: ILP Bukan Sekadar Lembaga Kursus

Agnes Monica ikut memeriahkan perayaan ulang tahun yang ke 33 dari lembaga kursus ILP (International Language Programs). Agnes mengaku senang bisa tampil di sana, dan ia merasa sedikit kaget dengan usia ILP yang sudah 33 tahun dan tetap mampu mempertahankan kualitasnya."Senang banget hari ini aku bisa perform di acara ILP. Aku agak sedikit kaget karena ILP umurnya sudah 33 tahun, sudah berdiri jauh sebelum aku lahir. Luar biasa sekali masih berdiri sampai saat ini dengan mempertahankan kualitasnya," ungkapnya ketika ditemui di Tennis Indoor Senayan dalam acara ILP 33th Anniversary, Tennis Indoor Jakarta Selatan (5/11).

Menurut Agnes nama ILP bukanlah sekedar lembaga kursus, mungkin cukup mudah bagi sebuah organisasi untuk berdiri selama 33 tahun. Namun ia sadar butuh kerja keras yang luar biasa untuk bertahan dengan kualitas terbaik selama 33 tahun.
"Nama ILP juga bukan sekedar kursus. Mungkin gampang kalau hanya berdiri selama 33 tahun, tapi dengan mempertahankan kualitas, itu yang luar biasa. Butuh effort yang luar biasa. Aku senang banget perform di acara ini, nanti aku hadir lengkap dengan band dan dancer," ujarnya.
Untuk acara tersebut Agnes tampil dengan 8 lagu yang merupakan kombinasi dari album pertama hingga album terakhir. Menurutnya ia sangat antusias untuk tampil dalam acara tersebut karena respon dari murid-murid ILP sangat baik dan antusias pula.
"Yang pasti nanti akan tampil seperti biasa, sekitar 8 lagu. Combine dari album pertama sampai album sekarang. Itu aja sih. Aku sangat excited. Di twitter murid-murid ILP sangat antusias untuk acara nanti. Dari aku sendiri jadi lebih excited karena mereka sangat excited bisa hadir untuk acara nanti," pungkasnya.
Sumber : Di sini

Agnes Monica: Sampai Sekarang Aku Masih Belajar

Agnes Monica tentu sangat mahir berbahasa Inggris, namun untuk shownya yang di IDP ini ia mengungkapkan komunikasi yang bakal ia gunakan adalah komunikasi campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. "Kalau untuk acara nanti di shownya aku seperti biasa komunikasinya campur, bahasa Indonesia sama bahasa Inggris, paling itu aja. Kalau komunikasi sendiri belum totally speak in English, tapi biasanya aku gabung. Kalau sehari-hari ngomong sama orang tua ngomong pakai bahasa Indonesia, paling ada beberapa istilah-istilah yang pakai bahasa Inggris. Cuma aku kan masih kuliah di Oregon State University jurusan political science. It has to be an english. Buku-buku yang aku baca, proyek yang aku bikin, mau nggak mau harus pakai bahasa Inggris. Paling itu aja. Sehari-hari sama teman sih tergantung, campur juga, tergantung berkomunikasi sama siapa," ujarnya ketika ditemui di Tennis Indoor Senayan sebelum tampil dalam acara ILP 33th Anniversary, Tennis Indoor Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Kemampuan berbahasa Inggris Agnes pelajari sejak SD, namun saat itu fokus yang diberikan lebih ke pelajaran eksak. Baru ketika menginjak SMP ketika ia mendapat beasiswa dari SPH ia lebih banyak menggunakan bahasa Inggris.
"Aku dari SD, biasanya SD swasta emang ada pelajaran bahasa Inggris, cuma belum seperti sekarang. Kalau dulu bahasa Inggrisnya yang sangat simpel, kita lebih fokus sama pelajaran lain yang lebih eksak kayak IPA, IPS sama Matematika. Kebetulan aku kelas 1 SMP dapat beasiswa dari SPH yang statusnya nasional plus. Tetap ada bahasa Indonesia, tapi lebih banyak berbahasa Inggris. Saya masuk ikut tes, terus puji Tuhan dapat beasiswa 100% selama 6 tahun. Pada saat itu aku terima kasih banget. Waktu masuk sekolah ku terkaget-kaget mereka ngomong Inggrisnya lancar banget. Aku berasa kayak di negara lain. Pada saat itu, mau tidak mau aku dipaksa untuk bisa ngomong bahasa Inggris. Caranya dengan harus banyak baca dan ngomong bahasa Inggris sampai akhirnya terbiasa. Percaya atau tidak, sampai sekarang aku masih belajar. Yang paling penting adalah harus baca, nulis, nonton. Kalau nonton, subtitles dimatiin, nanti kalau nggak ngerti liat kamus. Kuncinya jangan pernah berhenti belajar," ungkapnya.
Sebagai seorang artis Agnes sudah meraih banyak kesuksesan, tetapi satu hal yang kurang, sukses dalam hal cinta. Namun ia sangat bersyukur dengan keadaannya sekarang, dan saat ini ia lebih fokus kepada pekerjaan.
"Kurang sukses di love life kali ya hahaha. Tapi nggak begitu juga ya, karena susah nentuin standar kurang suksesnya kayak gimana. Aku thankful banget karena sekarang lagi fokus sama pekerjaan. Tapi aku ngerasa kurang waktu. Kurang waktu untuk have fun, karena banyak kegiatan. Tapi itu semua worthed untuk aku," pungkas Agnes sambil tertawa.
Sumber Di sini

Agnes Monica Jadi Host Internasional AMA 2010!

Setelah beberapa lama mengumumkan rencana go internasional, paling tidak kali ini Agnes Monica mendapat kesempatan untuk 'mencicipi' kancah internasional. Dan bukan main-main, kali ini Agnes didapuk menjadi salah satu host internasional untuk ajang AMA (American Music Award)!
Tanpa banyak gembar-gembor, salah satu bintang berbakat Indonesia ini tiba-tiba menulis dalam akun Twitternya bahwa dia akan menjadi host internasional red carpet AMA.
"Tweez,I am going to be 1 of the int'l hosts of red carpet AMA live(American Music Awards) November 21, 2010. wif @dannygokey too!!" tulis Agnes.
Seperti diungkapkan Agnes, AMA 2010 akan dilaksanakan pada 21 November 2010. Sedangkan nama Danny Gokey yang disebut Agnes kali ini adalah co-hostnya di ajang AMA nanti. Danny adalah penyanyi country asal Amerika. Danny juga sempat menduduki posisi ketiga pada AMERICAN IDOL musim ke-8.
Akun twitter Danny pun membenarkan kabar yang disebutnya sebagai sebuah 'proyek' ini, "In L.A. Hanging in green room with pop star @agnezmo from Indonesia. We're working on project."
Sumber : Di sini

Akhir Persahabatan

Ambillah kekasihku
Bila itu yang kau mau
Namun mulai saat ini
Aku tak ingin mengenalmu lagi

Segitu berartikah
Kekasihku di matamu
Hingga kau lupa siapa aku
Aku sahabatmu yang selalu mempercayaimu

Aku terluka sungguh terluka
Tak percaya teganya engkau merebut kekasihku
Aku terluka sungguh terluka
Tak percaya semurah itukah arti persahabatan kita

Inilah akhir persahabatan
Semoga kalian bahagia
Aku terluka sungguh terluka
Tak percaya serendah itukah aku dihargai

Aku teluka sungguh terluka
Tak percaya semurah itukah arti persahabatan kita
Tak percaya …
Tetapi inilah akhir persahabatan kita

Sumber : Di sini